Kamis, 14 Februari 2013

KKN: we call it, a second family



Kita bilang ini namanya keluarga kedua. Sudah tradisi mahasiswa tingkat atas melakukan kegiatan ini. Namanya KKN (Kuliah Kerja Nyata). Disebut begitu mungkin karena kita kuliah, 3sks, tapi bedanya mata kuliah ini dilakukan di luar kelas, dan menginap dirumah warga selama 1 bulan. Penentuan kita dapat daerah mana, siapa teman-teman kita nanti dilakukan secara random, benar-benar acak. Beberapa fakultas digabung jadi 1, berbagai suku, agama, campur jadi 1 kemudian dilepaskan di pelosok daerah. Saya mendapat daerah Demak, kecamatan Wonosalam, desa Bunderan. Saya mendapat teman-teman yaaaa yang tidak saya kenal sama sekali sebelumnya. Mata kuliah ini seperti mengajarkan bagaimana beradaptasi dengan lingkungan baru, kemudian bekerja sama membangun desa tempat kita tinggal. Disitulah letak kesulitannya. Satu kelompok anak KKN di desa Bunderan terdiri dari 15 orang. Saya (Biologi), Roby (Industri), Syarif (Peternakan), Arif (Planologi), Katrin (Perikanan), Resti (Komunikasi), Nia + Rangga (Hukum), Awan (Perkapalan), Aji (Bisnis), Yogi (Sastra), Hayu (Elektro), Kidung (Kelautan), Lita (Ekonomi) dan Niya (Psikologi).



Bayangin aja orang sebanyak itu tidur rame-rame kayak ikan pindang dirumah orang, rebutan kamar mandi, rebutan makanan, rebutan cuci baju. Tanda pengenal kehadiran kita di desa itu cuma menggunakan hanger dan kertas yang dijepit dengan jepit jemuran. Ditempat lain pada pasang MMT, semacam spanduk kecil gitu.  Hahahaha. Kita sangat tidak modal. 


Kerjaan kita selama sebulan itu mengajar anak-anak sekolah, mengerjakan papanisasi, mencari potensi desa, mengikuti rapat di tempat kepala desa, sosialisasi penggunaan garam beryodium, membuat laporan setiap harinya dan mengamati pekerjaan sesama tim. Sepertinya sulit, tapi sebenarnya pekerjaan kita hanya bermain-main. HAHAHA. Saat malas mengajar pelajaran tambahan, rumah tempat kita tinggali kita tutup pintunya rapat-rapat dan membiarkan anak-anak yang datang pulang kembali kerumah masing-masing -jangan ditiru-. Ketika sudah pergi akhirnya kita membuka pintu kembali dan pergi main ke alun-alun kota Demak. 


Yah begitulah kegiatan kita selama sebulan. Saat waktu senggang, lebih memilih untuk karaokean, berenang, makan-makan, bermain kartu, cerita-cerita horor, menonton dvd bersama, main ps, curhat-curhat sebelum tidur. Dengan posisi 15 anak itu tiduran, kita saling bercerita satu sama lain. Padahal rumah tempat kita tinggal adalah rumah saudara si kepala desa. hahaha. 


Di desa tempat kita tinggal banyak sekali tanaman eceng gondoknya, banyak juga yang mengolahnya dengan memilin seperti bentuk kepangan yang panjang, kemudian dijual dalam bentuk barang setengah jadi. Mereka tidak memiliki ide untuk mengolah barang tersebut menjadi barang yang bernilai jual tinggi. Akhirnya sayapun yang memiliki ide untuk mengolahnya. Setelah saya kerjakan kemudian jadi lah barang-barang jadi dengan bahan eceng gondok seperti tempat pensil, sandal, keranjang buah. Ide saya tersebut tercium oleh ketua koordinasi KKN di kampus dan mengharapkan pekerjaan saya itu menjadi potensi desa di daerah tersebut.



Namun sepertinya dari pihak desa itu sendiri tidak menanggapi maksud saya. Yah usaha saya untuk membuat desa tersebut maju dengan produk khas desa itu hanyalah sebatas angin lalu saja. Padahal apabila dilakukan lebih dalam, saya yakin desa tersebut bisa menjadi desa yang maju dengan produknya sendiri. Bagaimana tidak?eceng gondok di desa itu jumlahnya melimpah.



Terlepas dari permasalahan itu saya bersyukur dikampus saya mengadakan acara KKN seperti itu. Membuat saya belajar langsung menangani masyarakat, mengetahui permasalahan di masyarakat dan membuat saya dan teman-teman KKN saya menjadi akrab hingga sekarang.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar